Pagi itu kami sekeluarga bersiap melakukan perjalanan ke Surabaya untuk menjenguk salah satu anggota keluarga yang sedang sakit dan dirawat di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Kami berjumlah enam orang, terdiri dari dua perempuan dan empat laki-laki, termasuk seorang anak laki-laki berusia enam tahun yang ikut dalam perjalanan tersebut.
Perjalanan dimulai dari Stasiun Kapas, Bojonegoro. Setelah semua perlengkapan siap, kami menunggu kedatangan Kereta Blorasura yang akan membawa kami menuju Surabaya. Suasana stasiun cukup ramai. Para penumpang tampak sibuk dengan tujuan masing-masing. Ada yang berangkat bekerja, berlibur, maupun mengunjungi keluarga seperti kami.
Ketika kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun, saya menikmati pemandangan di luar jendela. Hamparan sawah, rumah-rumah penduduk, dan aktivitas masyarakat yang terlihat sekilas menjadi hiburan tersendiri selama perjalanan. Pelayanan petugas kereta juga sangat baik. Mereka melayani penumpang dengan ramah dan membantu ketika ada yang membutuhkan informasi.
Di tengah perjalanan, perhatian saya tertuju pada seorang anak kecil yang duduk bersama keluarganya tidak jauh dari tempat kami. Awalnya ia terlihat tenang, tetapi semakin lama ia mulai gelisah. Beberapa kali ia bertanya kepada orang tuanya kapan akan sampai. Tak lama kemudian ia mulai menangis dan mengatakan bahwa ia ingin segera pulang serta ingin cepat turun dari kereta.
Orang tuanya berusaha menenangkan dengan penuh kesabaran. Mereka mengajak berbicara, menunjukkan pemandangan di luar jendela, bahkan memberikan makanan ringan agar perhatiannya teralihkan. Namun sesekali tangisnya kembali terdengar. Melihat kejadian tersebut, saya teringat bahwa bagi anak kecil, waktu terasa berjalan lebih lambat. Menunggu beberapa jam di dalam kereta bisa terasa sangat lama bagi mereka.
Peristiwa sederhana itu memberikan pelajaran berharga bagi saya. Dalam hidup, sering kali kita ingin segala sesuatu berjalan cepat. Kita ingin segera sampai pada tujuan, segera memperoleh hasil, atau segera menyelesaikan masalah. Namun seperti perjalanan kereta, ada proses yang harus dijalani dengan sabar. Tidak semua hal bisa dipercepat sesuai keinginan kita.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya kami tiba di Stasiun Pasar Turi Surabaya. Dari sana kami memesan transportasi melalui aplikasi Grab untuk menuju RSUD Dr. Soetomo. Tidak perlu menunggu lama, pengemudi datang menjemput sesuai titik yang telah ditentukan.
Saya merasa pelayanan pengemudi Grab sangat baik. Beliau ramah, sopan, dan membantu kami selama perjalanan menuju rumah sakit. Dengan kondisi membawa beberapa anggota keluarga, pelayanan yang baik tentu memberikan kenyamanan tersendiri. Sepanjang perjalanan, kami dapat melihat suasana Kota Surabaya yang ramai dengan aktivitas masyarakatnya.
Sesampainya di RSUD Dr. Soetomo, kami segera menuju ruang perawatan untuk menjenguk keluarga yang sedang sakit. Kehadiran kami mungkin tidak dapat menghilangkan rasa sakit yang dirasakan, tetapi setidaknya dapat memberikan semangat dan dukungan moral agar beliau tetap kuat menjalani proses penyembuhan.
Perjalanan hari itu bukan sekadar perjalanan dari Bojonegoro ke Surabaya. Ada banyak pelajaran yang saya peroleh. Dari pelayanan petugas kereta yang ramah, pengemudi Grab yang membantu dengan baik, hingga tangisan seorang anak kecil yang mengajarkan arti kesabaran. Saya menyadari bahwa setiap perjalanan selalu menyimpan cerita dan hikmah bagi siapa saja yang mau memperhatikannya.
Ketika sore menjelang dan kami bersiap kembali pulang, saya membawa satu pelajaran penting dalam hati: tujuan memang penting, tetapi proses menuju tujuan sering kali memberikan pelajaran yang jauh lebih berharga.
0Komentar