“Pak, saya titip anak saya ke sekolah, bukan untuk dimarahi.” Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa, sore itu rasanya seperti batu yang jatuh tepat di dada saya.
Hari itu sebenarnya biasa saja. Saya mengajar seperti biasa di kelas 5. Anak-anak ramai, seperti biasa. Ada yang tertawa, ada yang bercanda, ada juga yang diam tapi pikirannya ke mana-mana. Dan di antara semua itu, ada satu anak—sebut saja namanya Raka. Raka bukan anak yang nakal. Tapi hari itu, ia benar-benar menguji kesabaran. Berkali-kali saya ingatkan untuk tidak mengganggu temannya. Berkali-kali juga ia mengulanginya. Sampai akhirnya, dengan nada yang sedikit lebih tegas, saya berkata, “Raka, kalau kamu masih mengganggu, kamu Bapak minta duduk sendiri di depan.” Kelas hening. Raka diam. Dan pelajaran lanjut seperti biasa.
Saya pikir selesai. Ternyata belum. Siang harinya, seorang wali murid datang. Wajahnya tegang. Suaranya ditahan, tapi jelas tidak senang. “Pak, anak saya cerita kalau dia dipermalukan di depan kelas.” Saya mencoba menjelaskan dengan tenang. Menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi sebelum kalimat saya selesai, beliau langsung memotong, “Pak, saya titip anak saya ke sekolah, bukan untuk dimarahi.” Saya diam.
Ada banyak kalimat di kepala saya saat itu. Banyak sekali. Tapi tidak ada satu pun yang keluar. Saya hanya bisa tersenyum kecil dan berkata, “Baik, Bu. Terima kasih masukannya.” Beliau pergi. Dan saya masih duduk di kursi, sendirian di kelas yang tadi pagi penuh suara. Sore itu, saya pulang lebih lama dari biasanya. Bukan karena pekerjaan belum selesai. Tapi karena hati saya belum selesai.
Saya bertanya dalam diam… Apakah saya terlalu keras? Apakah saya salah? Atau… apakah saya hanya tidak dipahami? Menjadi guru itu aneh. Kita diminta sabar, tapi tidak boleh terlihat lemah. Kita diminta tegas, tapi tidak boleh dianggap galak. Kita diminta mendidik, tapi kadang tidak diberi ruang untuk menjelaskan. Dan yang paling berat… Kita sering diminta mengerti semua orang, tapi jarang ada yang mencoba mengerti kita. Beberapa hari kemudian, Raka datang ke meja saya saat istirahat. “Pak, maaf ya waktu itu saya ganggu terus.” Saya tersenyum. “Tidak apa-apa, yang penting sekarang sudah lebih baik.” Lalu ia menambahkan, “Ibu saya juga bilang… mungkin saya yang salah.” Saya terdiam sejenak.
Bukan karena marah. Tapi karena… akhirnya ada yang sampai. Hari itu saya belajar satu hal. Bahwa dalam dunia pendidikan, yang sering patah hati bukan hanya murid. Kadang… guru juga. Tapi bedanya, guru tetap harus tersenyum di depan kelas keesokan harinya.
Pesan Moral








