![]() |
| Gagal Itu Biasa, Menyerah Itu Pilihan |
Pernah nggak sih kamu merasa sudah berusaha keras, tapi hasilnya tetap nol?
Sudah begadang, sudah mencoba berkali-kali, sudah mengorbankan waktu, tenaga, bahkan perasaan… tapi tetap saja gagal. Rasanya kayak hidup ini nggak adil. Orang lain terlihat lancar-lancar saja, sementara kita seperti jalan di tempat.
Aku juga pernah di titik itu.
Dulu aku berpikir, kalau gagal sekali berarti kurang pintar. Gagal dua kali berarti memang bukan jalannya. Gagal tiga kali? Ya sudah, mungkin aku memang nggak berbakat.
Tapi ternyata aku salah besar.
Gagal itu bukan tanda berhenti. Gagal itu tanda bahwa kamu sedang bergerak.
Coba pikirkan ini: orang yang tidak pernah gagal biasanya adalah orang yang tidak pernah mencoba. Mereka aman, iya. Tapi juga tidak berkembang. Sementara kamu? Kamu mungkin jatuh, tapi kamu sedang belajar sesuatu yang tidak semua orang berani pelajari—proses.
Dan proses itu mahal.
Kadang kita terlalu fokus pada hasil. Lupa bahwa setiap orang punya garis waktu masing-masing. Media sosial bikin semuanya terlihat cepat dan instan. Teman seangkatan sudah sukses. Tetangga sudah punya ini-itu. Kita? Masih berjuang dengan versi diri sendiri yang belum jadi.
Tapi siapa bilang itu salah?
Setiap pohon tumbuh dengan waktu berbeda. Ada yang cepat tinggi tapi rapuh. Ada yang tumbuh pelan, akarnya dalam, batangnya kuat, dan bertahan puluhan tahun. Kamu mau jadi yang mana?
Aku pernah membaca sebuah kalimat sederhana: “Jangan bandingkan bab 1 hidupmu dengan bab 20 hidup orang lain.” Dan itu menamparku cukup keras.
Sering kali kita menyerah bukan karena tidak mampu. Tapi karena merasa tertinggal.
Padahal hidup ini bukan lomba lari 100 meter. Ini maraton. Yang penting bukan siapa yang paling cepat di awal, tapi siapa yang bertahan sampai akhir.
Kalau hari ini kamu merasa gagal, istirahatlah. Tapi jangan berhenti.
Istirahat itu mengisi ulang tenaga. Berhenti itu mematikan harapan.
Ada perbedaan besar di antara keduanya.
Kadang kamu cuma butuh jeda. Menenangkan pikiran. Mengatur ulang strategi. Bukan menyerah total. Karena sering kali yang perlu diperbaiki bukan mimpinya, tapi caranya.
Aku percaya satu hal: usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Mungkin hasilnya bukan sekarang. Mungkin bukan bulan ini. Tapi suatu hari nanti, kamu akan melihat ke belakang dan sadar—semua jatuh itu ternyata sedang membentukmu.
Dan percaya atau tidak, kegagalan itu membangun mental lebih kuat daripada keberhasilan instan.
Keberhasilan cepat bisa bikin kita besar kepala. Tapi kegagalan mengajarkan rendah hati, sabar, dan tahan banting.
Bukankah itu kualitas yang lebih penting untuk jangka panjang?
Kalau saat ini kamu sedang berada di titik terendah, izinkan aku bilang sesuatu:
Kamu tidak sendirian.
Banyak orang yang terlihat kuat di luar, diam-diam juga sedang berjuang. Banyak yang terlihat percaya diri, sebenarnya juga sering ragu. Hidup memang penuh tantangan. Tapi justru di situlah kamu dibentuk.
Versi terbaik dirimu tidak lahir dari zona nyaman.
Dia lahir dari malam-malam penuh tanya.
Dari air mata yang tidak terlihat orang.
Dari doa-doa yang dipanjatkan diam-diam.
Dari keputusan untuk mencoba lagi, meski takut gagal lagi.
Jangan tunggu percaya diri untuk mulai. Mulailah, nanti percaya diri akan menyusul.
Kadang kita terlalu banyak berpikir. Takut salah. Takut dinilai. Takut gagal lagi. Padahal tindakan kecil hari ini jauh lebih berarti daripada rencana sempurna yang tidak pernah dijalankan.
Mulai saja dulu.
Satu langkah kecil.
Satu perubahan kecil.
Satu kebiasaan kecil.
Karena perubahan besar selalu dimulai dari hal kecil yang konsisten.
Kalau kamu membaca ini sambil merasa lelah, aku mengerti.
Tapi jangan biarkan lelah itu membuatmu berhenti bermimpi. Dunia ini butuh orang-orang yang terus mencoba. Butuh orang-orang yang bangkit meski berkali-kali jatuh.
Dan mungkin, salah satunya adalah kamu.
Jadi kalau hari ini terasa berat, izinkan dirimu merasa. Tapi setelah itu, bangkitlah lagi.
Karena gagal itu biasa.
Menyerah? Itu pilihan.
Dan aku harap, kamu memilih untuk terus berjalan.

EmoticonEmoticon